Pejalan Kaki kian Galau

‘ah sekarang nggak ada tempat buat pejalan kaki’ umpat seorang mengomentari 9 orang pejalan kaki yang tewas ditabrak pengemudi xenia yg emang pengonsumsi narkoba. Bukan hanya jalanan di jakarta sebenarnya yg bikin galau, kalau kamu tahu. Di jogja trotoar di alun-alun selatan semena-mena didirikan angkringan nomaden di atasnya di malang, di dekat stadion gajayana penjual pecel itu juga menggunakan trotoar ‘banyak rumah secara sengaja trotoar di depan rumahnya dipenuhi dengan pot-pot bunga’ dimanakah ruang publik? Dimanakah ruang privat ? Perlukah kita paham mana itu ruang privat dan mana itu ruang publik. Sebaiknya kita renungi pertanyaan-pertanyaan di atas. Di sisi yang lain kita dihadapkana pada dilema bahwasannya mereka yang menggunakan ruang publik untuk kepentingan privatnya kebanyakan adalah mereka yang proletar, kalau kita usir mereka berdagang di trotoar kita iba, tapi kalu tidak maka pejalan kaki semakin galau karena ruang mereka ‘berekspresi’, ruang publik tempat mereka berjalan ( baca: trotoar ) telah direngkuh. Maka saya bisa mengambil benang merah, bahwa kesejahteraan rakyat, pengentasan kemiskinan adalah hal yg utama di negeri ini. Ada hubungan positif antara kemiskinan dengan tak tercerabutnya hak pejalan kaki. Mari kita sediakan trotoar! Di satu sisi kita entaskan kemiskinan biar mereka yg proletar tak menggelar dagangannya di trotoar. Kalau yg kaya memanfaatkan trotoar untuk kebutuhan privatnya, itu memalukan!